Jakarta - Polri masih melakukan pengejaran pada kelompok kriminal bersenjata yang melakukan penyerangan di area PT Freeport di Tembagapura, Papua. Dalam aksi ini, TNI pun ikut dilibatkan.
"Kita kerjasama dengan TNI untuk melakukan penyisiran, sekarang Polda Papua dan Densus 88 juga sedang melakukan penyisiran di tempat kejadian dan wilayah lainnya yang diduga mereka (kelompok kriminal bersenjata) ada di sana," kata Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD), di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (14/4/2009).
Namun Bambang Hendarso enggan memberikan penjelasan mengenai dugaan peluru yang digunakan para pelaku. Padahal diketahui peluru itu berukuran 5,6 mm dan biasa digunakan untuk senjata organik.
"Peluru dengan jenis yang sama bisa saja dimiliki kelompok bersenjata, jangan dulu langsung kalau ada peluru yang sama, kita seolah ada yang punya senjata seperti itu. Peluru bisa saja mereka dapatkan dengan senjata yang dirakit atau jenis yang sama yang dimiliki," terangnya.
Dia juga mengaku saat ini peluru masih diperiksa di laboratorium. "Insya Allah kita kerja keras, kita akan laksanakan operasi terpusat, kerja keras Mabes Polri diback up TNI,' imbuhnya.
Atas kejadian ini Kapolri juga membantah bila dari peristiwa penembakan ini seolah Polri kecolongan. "3 SSK saya ada di sana di Brimob, Kelapa Dua, ditambah Satgas CRT (crisis respons team)," terangnya.
Kenapa Freeport yang diserang? "Itu kan pergerakan mereka dengan kondisi geografis seperti ini itu, pergerakan mereka yang sudah menguasai medan. Saat kapan saja akan bergerak dan sasaran yang mana itu bisa saja dilakukan mereka. Bahkan aparat kita dengan jumlah seperti itu, kalau untuk menutup wilayah Papua dengan seperti ini akan sulit," tutupnya.
"Kita kerjasama dengan TNI untuk melakukan penyisiran, sekarang Polda Papua dan Densus 88 juga sedang melakukan penyisiran di tempat kejadian dan wilayah lainnya yang diduga mereka (kelompok kriminal bersenjata) ada di sana," kata Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD), di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (14/4/2009).
Namun Bambang Hendarso enggan memberikan penjelasan mengenai dugaan peluru yang digunakan para pelaku. Padahal diketahui peluru itu berukuran 5,6 mm dan biasa digunakan untuk senjata organik.
"Peluru dengan jenis yang sama bisa saja dimiliki kelompok bersenjata, jangan dulu langsung kalau ada peluru yang sama, kita seolah ada yang punya senjata seperti itu. Peluru bisa saja mereka dapatkan dengan senjata yang dirakit atau jenis yang sama yang dimiliki," terangnya.
Dia juga mengaku saat ini peluru masih diperiksa di laboratorium. "Insya Allah kita kerja keras, kita akan laksanakan operasi terpusat, kerja keras Mabes Polri diback up TNI,' imbuhnya.
Atas kejadian ini Kapolri juga membantah bila dari peristiwa penembakan ini seolah Polri kecolongan. "3 SSK saya ada di sana di Brimob, Kelapa Dua, ditambah Satgas CRT (crisis respons team)," terangnya.
Kenapa Freeport yang diserang? "Itu kan pergerakan mereka dengan kondisi geografis seperti ini itu, pergerakan mereka yang sudah menguasai medan. Saat kapan saja akan bergerak dan sasaran yang mana itu bisa saja dilakukan mereka. Bahkan aparat kita dengan jumlah seperti itu, kalau untuk menutup wilayah Papua dengan seperti ini akan sulit," tutupnya.









0 komentar:
Posting Komentar