Perkara terbunuhnya Munir, aktivis Kontras itu, menjadi pembuktian bahwa Indonesia sebenarnya ada-lah sebuah negara protektorat Amerika Serikat.
Sebuah negara yang berada di bawah perlindungan Amerika Serikat, oleh karenanya pemerintahannya harus mengikuti saran dan instruksi dari Washington. Harus menjauhi seluruh larangannya.
Bahwa sebenarnya penghukuman Pol-lycarpus oleh Mahkamah Agung melalui permohonan Peninjauan Kembali (PK) Kejaksaan Agung, dan penangkapan Muchdi PR, bekas petinggi Badan Inte-lijen Negara (BIN) oleh polisi, tak lain karena pengaruh Kongres Amerika Seri-kat. Padahal lembaga legislatif negeri Paman Sam itu secara struktural menurut Undang-Undang Dasar 1945 tak ada hubungannya dengan Pemerintah Indo-nesia.
Barang siapa yang masih cinta pada negeri ini kecuali orang yang hidupnya dari dollar US-AID dan lembaga sema-camnya dan membaca surat-surat Kong-res Amerika Serikat 27 Oktober 2005 dan 3 November 2006, pasti akan merasa amat terhina. Ternyata Presiden sebuah negara besar, Indonesia, cuma digurui oleh anggota DPR Amerika Serikat. Ini salah satu contoh isi surat. Mahkamah Agung membebaskan Pollycarpus, kata surat Kongres itu, karena pengadilan itu tidak independen.
Maka agar Mahkamah Agung inde-penden, dan tak lagi dikecam Kongres Amerika Serikat, Mahkamah Agung kemudian mengabulkan PK Kejaksaan Agung dan menghukum Pollycarpus 20 tahun penjara. Padahal undang-undang kita secara eksplisit menyatakan bahwa pengajuan PK adalah hak pihak terdakwa, bukan Kejaksaan Agung.
Perlu diketahui, selain kepolisian, Mahkamah Agung dikabarkan institusi negara yang banyak mendapat bantuan luar negeri. Tapi beginilah nasib hukum kita. Keputusan pengadilan tertentu digunakan untuk mengabdi kepada Amerika Serikat, selain untuk memper-kaya diri sendiri seperti sudah sering terbukti selama ini.
Coba, pasukan anti-teror kita ternyata dibentuk dan dilatih dengan biaya sepe-nuhnya dari Amerika Serikat. Bisakah mereka bertindak bebas dari pengaruh Amerika Serikat? Ingat, ''tak ada makan siang yang gratis'' (there is no free lunch). Semua itu ada harganya.
Pasukan Densus 88 dilengkapi fasi-litas istimewa. Selain persenjataan dan peralatan canggih, ia diberi sebuah pesa-wat terbang khusus yang setiap waktu bisa mereka gunakan. Lalu Amerika Serikat setiap tahun memberi bantuan kepada kepolisian: tahun 2004 sebesar US$ 5.778.000, tahun 2005 sebesar US$ 5.300.000, dan tahun 2006 sebesar US$ 5.300.000. Rata-rata sekitar Rp 50 mil-yar/tahun (lihat laporan Congressional Research Service atau CRS tahun 2005).
Menjadi tanda tanya besar, ketika Kongres Amerika Serikat setidaknya dua kali menyurati Presiden SBY kabarnya ada lagi surat-surat yang lain -- dalam soal pembunuhan Munir dan Kongres Ame-rika Serikat mengarahkan polisi untuk mengusut orang-orang Badan Intelijen Negara (BIN), bisakah polisi kita bersikap independen? Tanyalah kepada rumput yang bergoyang.
Hal yang sama terjadi sebelumnya, dalam mengusut kasus bentrokan di Monas, 1 Juni 2008. Polisi menangkap Habib Rizieq Syihab, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), padahal ia tak ada di Monas ketika peristiwa terjadi. Polisi kerepotan menyiapkan fasal berlapis untuk menjerat ulama itu. Pokoknya yang penting ia bisa ditahan di sel polisi. Yang jelas Kedutaan Besar Amerika Serikat turut campur tangan dalam kasus ben-trokan Monas. Dan Habib Rizieq adalah ulama yang dikenal paling anti-impe-rialisme Amerika Serikat selama ini.
Yang paling menyakitkan hati, ter-nyata para anggota Kongres Amerika Serikat yang menjadi sponsor menyurati Presiden SBY, adalah orang-orang yang tangannya berlumuran darah. Orang-orang yang bersama Presiden George Bush semestinya diseret ke Mahkamah Internasional karena kejahatan yang mereka lakukan di Irak. Karena kejahatan mereka terlibat membuat penjara illegal Guantanamo, Abu Ghraib, Bagram, dan sejumlah penjara CIA yang dirahasiakan di Eropa dan Asia, tempat orang diculik dan disiksa.
Tiba-tiba untuk kasus Munir, orang-orang ini menyulap dirinya menjadi pahlawan pembela hak asasi manusia, menyembunyikan tangan-tangannya yang berdarah. Jelas tindakan orang-orang munafik itu seolah-olah menjadi pembela Munir, adalah tindakan politis semata, dalam rangka war on terror (perang melawan terror): memecah-belah umat Islam Indonesia, dan memojokkan Indonesia sebagai negara pelanggar HAM.
Polisi memang kesulitan membongkar kasus terbunuhnya Munir beberapa tahun lalu dalam penerbangan Jakarta ke Amsterdam. Menurut pemeriksaan apa-rat kepolisian Belanda, Munir meninggal dunia karena diracun. Dari sinilah kemudian masalah itu bermula.
Polisi kesulitan mencari tahu siapa yang meracuni Munir. Sampai sekarang, meski Mahkamah Agung sudah meng-hukum Pollycarpus, pegawai perusahaan penerbangan Garuda yang diketahui ada di dalam pesawat yang diterbangi Munir dari Jakarta ke Singapore, sama sekali tak diketahui siapa yang memasukkan racun ke makanan atau minuman Munir. Malah tak jelas, apakah Munir keracunan karena memakan sesuatu atau meminum sesuatu.
Jaksa mau pun hakim, selama ini hanya menebak-nebak saja. Suatu kali jaksa bilang Munir keracunan karena menum orange juice, kali yang lain majelis hakim tanpa kesaksian siapa pun memutuskan Munir diracun melalui supermie yang dimakannya di dalam pesawat.
Mungkin karena Munir adalah se-orang aktivis HAM, maka kasus ini mendapat sorotan luar biasa dari pers Indonesia. Sejak awal, pemeriksaan kasus ini kelihatan sekali berada di bawah tekanan pengaruh pers. Presiden SBY tampak terlibat aktif. Harus dimaklumi Presiden SBY sudah terkenal sebagai tokoh yang amat menyenangi tebar pesona. Artinya, ia selalu ingin tampil baik di dalam pemberitaan pers. Maka ke mana pers berpihak, ke situ pula SBY menem-patkan posisi. Ternyata di bawah permu-kaan kasus ini dicampuri pula oleh Kongres Amerika melalui dua surat yang ditujukan kepada Presiden SBY.
Tomas Peter Lantos
Siapakah sebenarnya anggota Kongres Amerika yang menyeponsori pembuatan surat untuk mendikte Presiden SBY? Siapakah mereka yang tangannya berdarah-darah itu?
Tokoh dan sponsor urtamanya adalah Tomas Peter Lantos
atau biasa dipanggil Tom Lantos. Nama aslinya adalah Lantos Tamas Peter. Ia dilahirkan di sebuah keluarga Yahudi fanatik di Budapest, Hungaria, 1 Februari 1928. Ia merantau ke Amerika Serikat dalam usia 19 tahun, pada 1947, dan berhasil meraih gelar Ph D dari University of California, Berkeley. Se-jak itu ia berkecimpung sebagai pengajar ekonomi di berbagai perguruan tinggi. Pada tahun 1980, ia berpindah ke politik. Ia menjadi anggota Kongres dari Partai Demokrat, melalui daerah pemilihan di California.
Sebagai seorang keturunan Yahudi, Lantos adalah pendukung utama Israel di DPR Amerika Serikat. Dia sangat bersemangat dalam mengacak-acak negara-negara Arab di Timur Tengah. Sebagai anggota DPR dari Partai Demokrat yang oposisi, sikap Tom Lantos mendukung Perang Irak, Penjara Guan-tanamo, dan berbagai kebijakan Bush lainnya, memang memecah partai itu. Barack Obama, Calon Presiden dari Partai Demokrat, misalnya, dikenal sebagai seorang penantang utama Perang Irak.
Gulf War 1 lies: conspiracy to gain support for the first Gulf War
Salah satu belang Tom Lantos ter-bongkar dalam sebuah skandal yang amat memalukan DPR Amerika Serikat yang disebut sebagai kasus Perawat Nayirah (Nurse Nayirah)
.
Waktu itu, 1991, Saddam Hussein menduduki Kuwait. Pemerintah Kuwait di pengasingan mendorong Amerika Serikat agar campur-tangan membe-baskan negeri itu dari cengkraman tentara Saddam Hussein. Ketika itu, Tom Lantos adalah Wakil Ketua Kaukus HAM Kong-res. Dia mensponsori kesaksian seorang gadis Kuwait berusia 15 tahun di Kongres Amerika Serikat, bernama Nayirah, yang disebut sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Kuwait.
Dalam kesaksiannya, Nayirah meng-ungkapkan bagaimana dengan dramatis ia menyelamatkan diri dari Kuwait dan bagaimana kekejaman tentara Saddam Hussein di Kuwait. Semua bayi-bayi merah yang ada di dalam ruang inkubator di rumah sakit, mereka campakkan ke lantai rumah sakit yang dingin, sampai meninggal dunia.
Kesaksian perawat ini segera menjadi headline koran dan liputan utama televisi di seluruh dunia. Kemarahan meledak di seluruh dunia, mengecam kebiadaban tentara Irak. Kongres Amerika Serikat segera bersidang dan memutuskan me-nyerbu Irak dan membebaskan Kuwait.
Tapi setahun kemudian, terbongkar bahwa kesaksian perawat Nayirah adalah palsu. Perawat Nayirah ternyata hanya rekayasa perusahaan public relation Hill & Knowlton yang disewa oleh sebuah lobi Kuwait di Amerika Serikat. Belakangan diketahui perusahaan PR itu masuk ke Kongres, melalui hubungan dekat dengan Tom Lantos. ( Cari di Google '300 baby incubator lie'
)
Mau tahu siapa perawat Nayirah? Ia tak lain putri dari Al-Sabah, Dubes Kuwait di Washington
, yang sama sekali tak tahu-menahu apa yang terjadi di Kuwait karena ia tinggal di Washington (untuk leng-kapnya keterlibatan Tom Lantos dalam kasus memalukan Kongres Amerika ini bisa dibaca The New York Times, 12, 15, dan 27 Januari 1992).
Adalah Tom Lantos yang menjadi salah satu pendukung kuat Presiden Bush di DPR Amerika Serikat, untuk menyerbu Irak dengan dalih negera itu memiliki senjata pemusnah massal dan Saddam Hussein punya hubungan dengan Usa-mah Bin Laden. Hasilnya, Oktober 2002, DPR Amerika Serikat menyetujui penyerbuan Irak.
Sebelumnya, Tom Lantos sudah bikin heboh. Suratnya kepada salah seorang anggota Parlemen Israel, Colette Avital, bocor dan menjadi berita di koran Israel, Ha'aretz. ''Saudara Colette, Anda tak akan punya problem dengan Saddam. Kami akan segera melenyapkan bajingan itu. Dia akan kami ganti dengan seorang diktator pro-Barat, yang akan baik untuk kami dan baik untuk Anda,'' begitu surat Tom Lantos, September 2002, sebulan sebelum DPR menyetujui penyerbuan Irak.
Tom Lantos juga pendukung utama penjara illegal Guantanamo, tempat ham-pir 800 orang Islam ditahan, disiksa, dihinakan. Mereka dituduh teroris, ter-libat penyerbuan Menara Kembar WTC dan Gedung Pentagon, tapi sudah 7 tahun ditahan dan tak pernah diadili. Secara diam-diam mereka dilepaskan satu persatu tanpa lewat proses hukum. Kini tersisa sekitar 300 tahanan di Guan-tanamo.
Oktober tahun lalu, Lantos mendam-prat sejumlah anggota Parlemen Belanda yang mengunjungi Guantanamo. Terjadi perdebatan sengit, tapi Lantos kemudian mengeluarkan jurus pamungkas. ''Kalau bukan karena Amerika Serikat, Belanda sampai sekarang adalah provinsi dari Nazi Jerman,'' sergahnya.
''Pernyataan seperti itu mematikan perdebatan. Itu menyakitkan dan tak produktif,'' ujar Harry van Boumel, salah seorang anggota Parlemen Belanda yang turut meninjau Guantanamo dan berteng-kar dengan Tom Lantos (International Herald Tribune, 27 Oktober 2007).
Israel memang rugi kehilangan pen-dukung utamanya di DPR Amerika Seri-kat ketika Februari lalu, Tom Lantos meninggal dunia karena kanker.
Tokoh dan sponsor urtamanya adalah Tomas Peter Lantos
Sebagai seorang keturunan Yahudi, Lantos adalah pendukung utama Israel di DPR Amerika Serikat. Dia sangat bersemangat dalam mengacak-acak negara-negara Arab di Timur Tengah. Sebagai anggota DPR dari Partai Demokrat yang oposisi, sikap Tom Lantos mendukung Perang Irak, Penjara Guan-tanamo, dan berbagai kebijakan Bush lainnya, memang memecah partai itu. Barack Obama, Calon Presiden dari Partai Demokrat, misalnya, dikenal sebagai seorang penantang utama Perang Irak.
Waktu itu, 1991, Saddam Hussein menduduki Kuwait. Pemerintah Kuwait di pengasingan mendorong Amerika Serikat agar campur-tangan membe-baskan negeri itu dari cengkraman tentara Saddam Hussein. Ketika itu, Tom Lantos adalah Wakil Ketua Kaukus HAM Kong-res. Dia mensponsori kesaksian seorang gadis Kuwait berusia 15 tahun di Kongres Amerika Serikat, bernama Nayirah, yang disebut sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Kuwait.
Dalam kesaksiannya, Nayirah meng-ungkapkan bagaimana dengan dramatis ia menyelamatkan diri dari Kuwait dan bagaimana kekejaman tentara Saddam Hussein di Kuwait. Semua bayi-bayi merah yang ada di dalam ruang inkubator di rumah sakit, mereka campakkan ke lantai rumah sakit yang dingin, sampai meninggal dunia.
Kesaksian perawat ini segera menjadi headline koran dan liputan utama televisi di seluruh dunia. Kemarahan meledak di seluruh dunia, mengecam kebiadaban tentara Irak. Kongres Amerika Serikat segera bersidang dan memutuskan me-nyerbu Irak dan membebaskan Kuwait.
Tapi setahun kemudian, terbongkar bahwa kesaksian perawat Nayirah adalah palsu. Perawat Nayirah ternyata hanya rekayasa perusahaan public relation Hill & Knowlton yang disewa oleh sebuah lobi Kuwait di Amerika Serikat. Belakangan diketahui perusahaan PR itu masuk ke Kongres, melalui hubungan dekat dengan Tom Lantos. ( Cari di Google '300 baby incubator lie'
Mau tahu siapa perawat Nayirah? Ia tak lain putri dari Al-Sabah, Dubes Kuwait di Washington
Adalah Tom Lantos yang menjadi salah satu pendukung kuat Presiden Bush di DPR Amerika Serikat, untuk menyerbu Irak dengan dalih negera itu memiliki senjata pemusnah massal dan Saddam Hussein punya hubungan dengan Usa-mah Bin Laden. Hasilnya, Oktober 2002, DPR Amerika Serikat menyetujui penyerbuan Irak.
Sebelumnya, Tom Lantos sudah bikin heboh. Suratnya kepada salah seorang anggota Parlemen Israel, Colette Avital, bocor dan menjadi berita di koran Israel, Ha'aretz. ''Saudara Colette, Anda tak akan punya problem dengan Saddam. Kami akan segera melenyapkan bajingan itu. Dia akan kami ganti dengan seorang diktator pro-Barat, yang akan baik untuk kami dan baik untuk Anda,'' begitu surat Tom Lantos, September 2002, sebulan sebelum DPR menyetujui penyerbuan Irak.
Tom Lantos juga pendukung utama penjara illegal Guantanamo, tempat ham-pir 800 orang Islam ditahan, disiksa, dihinakan. Mereka dituduh teroris, ter-libat penyerbuan Menara Kembar WTC dan Gedung Pentagon, tapi sudah 7 tahun ditahan dan tak pernah diadili. Secara diam-diam mereka dilepaskan satu persatu tanpa lewat proses hukum. Kini tersisa sekitar 300 tahanan di Guan-tanamo.
Oktober tahun lalu, Lantos mendam-prat sejumlah anggota Parlemen Belanda yang mengunjungi Guantanamo. Terjadi perdebatan sengit, tapi Lantos kemudian mengeluarkan jurus pamungkas. ''Kalau bukan karena Amerika Serikat, Belanda sampai sekarang adalah provinsi dari Nazi Jerman,'' sergahnya.
''Pernyataan seperti itu mematikan perdebatan. Itu menyakitkan dan tak produktif,'' ujar Harry van Boumel, salah seorang anggota Parlemen Belanda yang turut meninjau Guantanamo dan berteng-kar dengan Tom Lantos (International Herald Tribune, 27 Oktober 2007).
Israel memang rugi kehilangan pen-dukung utamanya di DPR Amerika Seri-kat ketika Februari lalu, Tom Lantos meninggal dunia karena kanker.
Frank Wolf
Mark Steven Kirk
Sponsor lainnya dari surat Kongres untuk SBY adalah Frank Wolf
, anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Republik, asal daerah pemilihan Pennsyl-vania. Sebagai pendukung Partai Repub-lik partainya Presiden Bush adalah wajar Frank Wolf menjadi pendukung Perang Irak dan eksistensi Penjara Guantanamo.
Yang lain adalah adalah Mark Steven Kirk
, 49 tahun, anggota DPR dari Partai Republik. Kirik seorang yang terkenal amat cerdas tapi juga amat konservatif. Ia pendukung utama Perang Irak, anti-imigran Meksiko, sekaligus sangat anti-Muslim.
Bulan Juni lalu, ia bikin heboh Amerika Serikat ketika dalam sebuah wawancara radio dia bilang setuju polisi untuk menembak Obama di tempat. Setelah heboh, ia meralat ucapannya dengan enteng dengan mengatakan yang dimaksudnya adalah Osama Bin Laden, bukan Obama, sang Capres itu.
Musuh-musuh politik Obama me-mang suka memplesetkan namanya dengan Osama, yang cuma beda huruf b dengan s. Soalnya, sampai sekarang di bawah permukaan masih beredar isu bahwa Obama adalah seorang Muslim tersembunyi.
Isu bahwa Obama pernah belajar di sebuah madrasah di Jakarta yang dipimpin seorang kiai ekstrim, walau sudah diralat, tetap dipercaya oleh sebagian masyarakat Amerika. Apalagi memang sulit dibantah leluhur Obama dari pihak ayahnya di Kenya, beragama Islam.
Bila dilihat prestasi para sponsor surat Kongres kepada Presiden SBY, jelas mereka adalah orang-orang dengan tangan berdarah-darah di Irak. Mereka adalah penginjak-injak HAM di Irak dan Guantanamo. Bagaimana mereka bisa tiba-tiba menjadi pendekar HAM dalam kasus terbunuhnya Munir?
Kalau saja Presiden SBY punya keberanian, mestinya ia menjawab surat Kongres itu dengan mengingatkan mereka untuk jangan mencampuri urusan dalam negeri kita, dan mengingatkan mereka bahwa sejumlah anggota Kongres yang membuat surat itu tangannya berdarah-darah di Irak.
Soalnya, sudah pasti bohong mereka membuat surat itu dengan alasan kepentingan HAM. Kepentingannya adalah untuk menekan Indonesia agar tetap terpuruk, dalam rangka war on terror, karena Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Bukti sudah seabreg-abreg, tindakan yang sama mereka lakukan di Palestina, Lebanon, Pakistan, Sudan, Somalia, dan Iran. [red/www.suara-islam.com]
* Institute for Policy Studies (IPS)

Kasus Munir yang sudah menjadi konsumsi Internasional cq Amerika menekan Indonesia
Yang lain adalah adalah Mark Steven Kirk
Bulan Juni lalu, ia bikin heboh Amerika Serikat ketika dalam sebuah wawancara radio dia bilang setuju polisi untuk menembak Obama di tempat. Setelah heboh, ia meralat ucapannya dengan enteng dengan mengatakan yang dimaksudnya adalah Osama Bin Laden, bukan Obama, sang Capres itu.
Musuh-musuh politik Obama me-mang suka memplesetkan namanya dengan Osama, yang cuma beda huruf b dengan s. Soalnya, sampai sekarang di bawah permukaan masih beredar isu bahwa Obama adalah seorang Muslim tersembunyi.
Isu bahwa Obama pernah belajar di sebuah madrasah di Jakarta yang dipimpin seorang kiai ekstrim, walau sudah diralat, tetap dipercaya oleh sebagian masyarakat Amerika. Apalagi memang sulit dibantah leluhur Obama dari pihak ayahnya di Kenya, beragama Islam.
Bila dilihat prestasi para sponsor surat Kongres kepada Presiden SBY, jelas mereka adalah orang-orang dengan tangan berdarah-darah di Irak. Mereka adalah penginjak-injak HAM di Irak dan Guantanamo. Bagaimana mereka bisa tiba-tiba menjadi pendekar HAM dalam kasus terbunuhnya Munir?
Kalau saja Presiden SBY punya keberanian, mestinya ia menjawab surat Kongres itu dengan mengingatkan mereka untuk jangan mencampuri urusan dalam negeri kita, dan mengingatkan mereka bahwa sejumlah anggota Kongres yang membuat surat itu tangannya berdarah-darah di Irak.
Soalnya, sudah pasti bohong mereka membuat surat itu dengan alasan kepentingan HAM. Kepentingannya adalah untuk menekan Indonesia agar tetap terpuruk, dalam rangka war on terror, karena Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Bukti sudah seabreg-abreg, tindakan yang sama mereka lakukan di Palestina, Lebanon, Pakistan, Sudan, Somalia, dan Iran. [red/www.suara-islam.com]
* Institute for Policy Studies (IPS)
Kasus Munir yang sudah menjadi konsumsi Internasional cq Amerika menekan Indonesia









0 komentar:
Posting Komentar